Minggu, 20 Maret 2022

PENGARUH KOMUNIKASI DI LINGKUNGAN RUMAH TERHADAP KEGITAN BELAJAR ANAK

 Riezki Faradiena

Manusia sebagai individu memiliki berbagai identitas yang digunakan untuk tanda pengenal dirinya. Identitas ini dibentuk oleh lingkungan sekitar baik di lingkungan keluarga dan lingkungan sosial yang saling berkaitan erat. Lingkungan sosial terpaut pada semua hal yang berhubungan dengan kegiatan di luar rumah seperti bermain bersama teman sebaya, lingkungan sekolah, kantor, dan berbagai kegiatan dilakukan bersama orang lain. Sedangkan lingkungan keluarga atau rumah adalah segala kegiatan yang dilakukan oleh antaranggota keluarga seperti perbincangan orang tua dan anak. Keluarga merupakan tempat penyaringan nilai yang ada di lingkungan sosial serta tempat belajar pertama untuk anak.

Lingkungan rumah dikenal sebagai tempat utama dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak secara fisik maupun emosional. Pertumbuhan fisik dapat kita berikan melalui makanan atau konsumsi yang bergizi seimbang. Selanjutnya, perkembangan emosional dibentuk dengan hubungan perasaan antara orang tua dan anak melalui komunikasi. Di era sekarang masih banyak orang tua yang hanya fokus pada masalah fisik saja dan tidak sadar akan pentingnya komunikasi yang baik antaraanggota keluarga yang akan berimbas dengan proses pembentukan sang anak untuk menghadapi dunia luar termasuk kegiatan belajar anak.

Komunikasi yang dimaksud bukan hanya sekedar anak meminta izin keluar rumah atau  boleh atau tidaknya ia melakakukan sesuatu. Namun, hal itu lebih mengarah kepada proses penyampaian perasaan antara anak kepada orang tua atau sebaliknya secara terbuka. Seorang peneliti dari University of Arizona juga mengungkapkan bahwa ada 5 yang harus diperhatikan saat berkomunikasi dengan anak yaitu melakukan kontak mata, memberi pertanyaan yang dimengerti, suara yang lembut dan tenang serta memperhatikan perasaan anak agar ia tidak merasa seperti diinterogasi (Mohibu, 2015).

Saat terjadinya komunikasi, respon yang diberikan orang tua hendaknya bukan hanya sekedar jawaban singkat namun dapat memaparkan alasan yang bisa dipahami anak. Selain itu, pemberian apresiasi kepada anak jika ia mendapatkan suatu prestasi juga termasuk proses komunikasi. Anak akan merasa segala upaya yang dilakukannya dilihat atau dihargai oleh orang terdekat sehingga rasa percaya dirinya juga meningkat. Sejalan dengan hal itu, Mustafa (2006) menyampaikan bahwa komunikasi memberikan tiga dampak berdasarkan kadarnya, yaitu dampak kognitif yang berhubungan dengan bertambahnya pengetahuan; dampak afektif yang berkaitan dengan memacu emosional dan intuisi; serta dampak behavior yang cenderung kearah pengalaman berupa tindakan.

Anak yang berbicara secara terbuka dengan orang tuanya akan cenderung memiliki pemikiran yang kreatif dan inovatif serta memiliki rasa ingin tahu yang besar. Hal ini tentu sejalan dengan kegiatan belajar. Orang tua berperan sebagai guru di rumah dengan memberikan pendidikan dan pengajaran untuk anak dan orang tua juga berperan sebagai teman diskusi untuk ia belajar memecahkan masalah (Fauzan, dkk 2018).

Sebagai kesimpulan hal diatas, komunikasi baik yang terjadi antara anak dan orang dapat mempengaruhi kegiatan belajar anak. Anak akan mendapatkan pengetahuan baru dari orang tua. Selain itu, rasa ingin tahu yang ada di dalam diri anak membuatnya ingin belajar terus tentang berbagai hal yang akan mengantarkannya membuat berbagai kegiatan yang bermanfaat.

Referensi:

Fauzan, dkk. (2018). Peranan Komunikasi Orang Tua dalam Pembentukan Kepribadian Anak. http://doi.org/10.13140/RG.2.2.31693.69603.

Mohibu, A. (2015). Peranan Komunikasi Orang Tua Dalam Meningkatkan Minat  Belajar Anak: Suatu Studi Di Desa Buo Kec. Loloda Kab. Halmahera Barat.  E-Journal: Acta Diurna, 4(4), hal. 1-6.

Mustafa, D. (2006). Implementasi Komunikasi Orang Tua dan Anak dalam Bidang Pendidikan. Mediator, 7(1), hal. 139-146.

0