Riezki Faradiena
Manusia sebagai individu memiliki berbagai identitas
yang digunakan untuk tanda pengenal dirinya. Identitas ini dibentuk oleh
lingkungan sekitar baik di lingkungan keluarga dan lingkungan sosial yang
saling berkaitan erat. Lingkungan sosial terpaut pada semua hal yang
berhubungan dengan kegiatan di luar rumah seperti bermain bersama teman sebaya,
lingkungan sekolah, kantor, dan berbagai kegiatan dilakukan bersama orang lain.
Sedangkan lingkungan keluarga atau rumah adalah segala kegiatan yang dilakukan
oleh antaranggota keluarga seperti perbincangan orang tua dan anak. Keluarga merupakan
tempat penyaringan nilai yang ada di lingkungan sosial serta tempat belajar
pertama untuk anak.
Lingkungan rumah dikenal sebagai tempat utama dalam
proses pertumbuhan dan perkembangan anak secara fisik maupun emosional.
Pertumbuhan fisik dapat kita berikan melalui makanan atau konsumsi yang bergizi
seimbang. Selanjutnya, perkembangan emosional dibentuk dengan hubungan perasaan
antara orang tua dan anak melalui komunikasi. Di era sekarang masih banyak
orang tua yang hanya fokus pada masalah fisik saja dan tidak sadar akan
pentingnya komunikasi yang baik antaraanggota keluarga yang akan berimbas
dengan proses pembentukan sang anak untuk menghadapi dunia luar termasuk kegiatan
belajar anak.
Komunikasi yang dimaksud bukan hanya sekedar anak
meminta izin keluar rumah atau boleh
atau tidaknya ia melakakukan sesuatu. Namun, hal itu lebih mengarah kepada
proses penyampaian perasaan antara anak kepada orang tua atau sebaliknya secara
terbuka. Seorang peneliti dari University of Arizona juga mengungkapkan bahwa
ada 5 yang harus diperhatikan saat berkomunikasi dengan anak yaitu melakukan
kontak mata, memberi pertanyaan yang dimengerti, suara yang lembut dan tenang
serta memperhatikan perasaan anak agar ia tidak merasa seperti diinterogasi
(Mohibu, 2015).
Saat terjadinya komunikasi, respon yang diberikan
orang tua hendaknya bukan hanya sekedar jawaban singkat namun dapat memaparkan
alasan yang bisa dipahami anak. Selain itu, pemberian apresiasi kepada anak
jika ia mendapatkan suatu prestasi juga termasuk proses komunikasi. Anak akan
merasa segala upaya yang dilakukannya dilihat atau dihargai oleh orang terdekat
sehingga rasa percaya dirinya juga meningkat. Sejalan dengan hal itu, Mustafa
(2006) menyampaikan bahwa komunikasi memberikan tiga dampak berdasarkan kadarnya,
yaitu dampak kognitif yang berhubungan dengan bertambahnya pengetahuan; dampak
afektif yang berkaitan dengan memacu emosional dan intuisi; serta dampak
behavior yang cenderung kearah pengalaman berupa tindakan.
Anak yang berbicara secara terbuka dengan orang
tuanya akan cenderung memiliki pemikiran yang kreatif dan inovatif serta
memiliki rasa ingin tahu yang besar. Hal ini tentu sejalan dengan kegiatan
belajar. Orang tua berperan sebagai guru di rumah dengan memberikan pendidikan
dan pengajaran untuk anak dan orang tua juga berperan sebagai teman diskusi
untuk ia belajar memecahkan masalah (Fauzan, dkk 2018).
Sebagai kesimpulan hal diatas, komunikasi baik yang
terjadi antara anak dan orang dapat mempengaruhi kegiatan belajar anak. Anak
akan mendapatkan pengetahuan baru dari orang tua. Selain itu, rasa ingin tahu
yang ada di dalam diri anak membuatnya ingin belajar terus tentang berbagai hal
yang akan mengantarkannya membuat berbagai kegiatan yang bermanfaat.
Referensi:
Fauzan, dkk. (2018). Peranan Komunikasi Orang Tua dalam Pembentukan Kepribadian Anak. http://doi.org/10.13140/RG.2.2.31693.69603.
Mohibu,
A. (2015). Peranan Komunikasi Orang Tua Dalam
Meningkatkan Minat Belajar Anak: Suatu
Studi Di Desa Buo Kec. Loloda Kab. Halmahera Barat. E-Journal: Acta Diurna, 4(4),
hal. 1-6.
Mustafa,
D. (2006). Implementasi Komunikasi Orang
Tua dan Anak dalam Bidang Pendidikan.
Mediator, 7(1), hal. 139-146.